Buserekspose.com//Batam – Kejadian perlakuan yang tidak menyenangkan,terhadap pemilik pelabuhan Pak Amad dikawasan industri Sekupang Batam,kejadian pada hari Kamis tanggal 2 February 2023,kedatangan seorang oknum yang mengaku dari pemerintahan yang beri nisial E.S 13/2/23
Kalau memang kita seorang journalist,untuk apa kita berlagak dan mengaku sebagai pegawai pemerintahan, dan meminta menunjukkan surat-surat dokument pelabuhan dan peruntu kannya apa,sudah jelas,pelabuhan untuk bongkar muat,membantu masyarakat Hinterland mengangkut bahan-bahan pokok, dan sebagian yang membongkar kelapa muda,dan kelapa tua dari pulau.

Korban E.S sudah sering kali datang,menanyakan izin perusahaan pelayaran rakyat,milik PT Bintan Berkah Samudera,sudah jelas-jelas terdaftar di SK Mengkumham,jangan berfikir orang membuat dan memasang itu papan nama nggak jelas,tinggal di cek di Sahbandar,keabsahannya, jangan mencari kesalahan yang belum tentu kesalahan itu benar adanya.

Dan datang menjelek-jelekkan pa- pan nama PT Pantaian Jaya Mak mur no SK 018/Primkopgama/1V/ 2022,Mitra Primer Koperasi Gajah Mada,yang semuanya adalah ber badan Hukum semua tercantum dan terpampang jelas dipintu sebelah atas kantor sekaligus tempat pak Atan dan keluarga ber jualan.
Pihak Kapolsek sudah datang,dan mengecek cctv yang terpasang,di beberapa sudut,atas kejadian seorang journalist,yang datang mengaku sebagai pegawai pemeri ntahan,yang lucunya mengaku di cakar dipemberitaannya,apa iyaa badan sekekar itu dicakar Cece istri pak Atan,pemilik lokasi kejadian tersebut,apa sesuai dan sama yang dicctv atas kejadian itu, difoto pemberitaan tangan sampai tangannya memar…….
Dari stetmend narasumber pengakuan ke awak media,dia di foto secara diam2 itu yang dia tidak terima,sudah jelas dalam ketentuan undang-undang pers no 40 tahun 99 tidak dibenarkan, karena perlakuan tidak menyenang kan itu istri pak Atan tidak terima,dan meminta supaya dihapus dari handphonenya, ditam bah pemberitaan yang ditayang Ter tanggal 12 February 2023 menjelek jelekkan aparat Kepolisian, masuk angin.
Journalist Muchammad Atiya














