Sibolga, Buser Ekspose — Deretan pohon kembali tumbang serempak di sejumlah titik di Kota Sibolga. Alih-alih dianggap sebagai bencana ekologis, warga menyebut fenomena ini sebagai “gelombang keputusasaan ekologis” — seakan pepohonan lebih memilih menyerah daripada terus bertahan di kota yang tidak memperhatikannya.
“Kalau mereka tetap berdiri, untuk apa?” ungkap seorang warga sambil menunjuk batang pohon besar yang patah. “Yang peduli aja enggak ada. Roboh mungkin pilihan paling rasional.”
Sementara itu, pemerintah daerah masih disibukkan mencari frasa paling aman untuk menghindari kata kelalaian. Istilah yang digunakan adalah: “peristiwa alamiah yang terjadi karena faktor alam.” Kalimat itu terdengar panjang, diplomatis, dan secara ajaib tidak menjelaskan apa pun.
Ahli Lingkungan: Situasi Sudah Diprediksi
Para ahli lingkungan menegaskan bahwa tumbangnya pepohonan bukan kejadian mendadak. Tanah yang makin jenuh, drainase yang buruk serta pohon-pohon yang dibiarkan tanpa perawatan puluhan tahun menjadi pemicu utama.
Namun, upaya mitigasi dan perawatan pohon tampaknya bukan prioritas pemerintah.
“Bencana datang bukan karena salah kami. Ini kejadian rutin,” ujar salah seorang pejabat daerah.
Pernyataan itu langsung memicu pertanyaan pedas dari warga:
“Kalau rutin, kenapa mitigasinya tidak ikut rutin?”
Sindiran Publik Menggema di Media Sosial
Di dunia maya, warganet ramai menyindir bahwa pepohonan justru lebih menunjukkan inisiatif dibanding pemerintah daerah:
“Minimal pohon mengambil langkah konkret—meskipun langkah itu berupa melepaskan diri dari akar.”
Sementara itu, baliho bertuliskan “Sibolga Bersinar” tetap berdiri megah dan kokoh. Banyak warga menduga baliho itu satu-satunya objek yang benar-benar mendapatkan perawatan maksimal — dicetak, dipasang, dipuji, lalu dibiarkan tanpa tindak lanjut nyata.
Solusi Jangka Panjang Masih Sekadar Wacana
Saat dimintai pernyataan terkait langkah penanganan jangka panjang, pemerintah hanya menjawab akan “menggelar kajian komprehensif.”
Bagi sebagian warga, kalimat itu sudah menjadi sinyal kuat bahwa tidak akan ada tindakan nyata, kecuali dokumen kajian yang kemudian akan disimpan di lemari arsip — kemungkinan lemari yang sama tempat pemerintah menyimpan rasa tanggung jawab.
Di tengah hujan berikutnya, pepohonan yang tersisa masih berdiri diam, seolah mengirim pesan ke masyarakat:
“Kalau kami tumbang lagi nanti, jangan salahkan kami. Kami hanya lebih jujur daripada yang memimpin kalian.”***
@Red Buser Ekspose
#BuserEkspose #Sibolga #SibolgaHariIni #KrisisLingkungan #PohonTumbang #SibolgaBersinar #KritikMembangun #LingkunganHidup #DrainaseBuruk #WargaBersuara #PemerintahDaerah #InvestigasiPublik #JagaKotaKita #SaveSibolga









