BUSEREKSPOSE. COM//– Jambi Tanjabtim, 04 September 2025 – Aspirasi masyarakat adalah suara yang seharusnya lahir dan bergema di tengah-tengah rakyat itu sendiri. Gedung rakyat semestinya menjadi tempat utama bagi penyampaian keluhan, kritik, hingga harapan. Namun, situasi berbeda justru terjadi ketika sebuah pertemuan antara mahasiswa dan pemerintah daerah Tanjabtim digelar bukan di daerah, melainkan di sebuah cafe di Kota Jambi.
Suasana pertemuan itu berlangsung santai, bahkan lengkap dengan hidangan makanan dan minuman. Namun, di balik keakraban itu, muncul tanda tanya besar: sejauh mana aspirasi masyarakat Tanjabtim benar-benar tersampaikan? Dan lebih jauh lagi, mengapa harus di luar daerah, padahal permasalahan yang dibahas menyangkut langsung kebutuhan masyarakat Tanjabtim sendiri?
Sorotan semakin tajam ketika masyarakat menilai bahwa pertemuan tersebut hanya dihadiri segelintir orang. Sementara itu, nama besar “aspirasi rakyat Tanjabtim” tetap dibawa, seolah-olah seluruh masyarakat sudah terwakili. Padahal, banyak warga merasa tidak dilibatkan dan kehilangan ruang untuk menyampaikan suara mereka secara terbuka.
Dalam aksi Barisan Rakyat Tanjabtim Menggugat (Brantam), Agus Sukarno tampil sebagai sosok yang berani menyuarakan keresahan itu. Ia menegaskan, rakyat menanti bukti nyata dari janji visi-misi pemerintah daerah, salah satunya program seragam sekolah gratis yang hingga kini belum terealisasi. “Kalau visi misi tidak berjalan, kami tentu akan bertanya. Aspirasi rakyat seharusnya tidak berhenti di meja cafe, tapi diwujudkan di tengah masyarakat,” ujarnya.
Agus juga menyayangkan langkah pemerintah daerah yang memfasilitasi pertemuan di luar wilayah. Menurutnya, jika aspirasi benar-benar ingin dibuka secara luas, Tanjabtim adalah tempat yang paling tepat. Selain memberi ruang bagi masyarakat untuk hadir, hal itu juga akan mendorong perputaran ekonomi lokal, terutama bagi para pelaku UMKM yang kerap disebut sebagai prioritas pembangunan daerah.
Menanggapi hal ini, Bupati Tanjabtim menjelaskan bahwa alasan utama pertemuan di Kota Jambi adalah karena sebagian besar mahasiswa berdomisili di sana. Faktor keamanan dan kemudahan koordinasi juga menjadi pertimbangan. Namun, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menjawab keresahan publik yang menilai aspirasi rakyat seharusnya dibicarakan di tanah kelahirannya sendiri.
Kini, masyarakat Tanjabtim menaruh harapan besar agar setiap bentuk aspirasi tidak hanya menjadi agenda terbatas, melainkan benar-benar terbuka, melibatkan seluruh elemen, dan dilaksanakan di daerah sendiri. Karena bagi rakyat, aspirasi bukan sekadar percakapan santai di cafe, melainkan suara perjuangan yang harus didengar, diperjuangkan, dan diwujudkan demi kesejahteraan bersama.
(Tim B.A)














