BUSEREKSPOSE. COM // –
*JAMBI, 06 Oktober 2026, Kawasan wisata Kampoeng Radja Kota Jambi kini menghadapi masalah serius: volume sampah meningkat tajam seiring bertambahnya pengunjung. Ironisnya, masih banyak pengunjung membuang sampah tidak pada tempatnya, padahal tong sampah sudah tersedia.
Fakta itu terungkap dalam laporan penelitian tentang pengelolaan sampah berbasis digital mobile di Kampoeng Radja. Penelitian dilatarbelakangi keprihatinan kurangnya perhatian terhadap sampah di era modern, khususnya di tempat wisata dan rekreasi.
Padahal aturannya jelas. Perda No 5 Tahun 2020 Pasal 7 menyebutkan Pemerintah Daerah wajib menjamin pengelolaan sampah yang baik dan berwawasan lingkungan. Ditambah UU RI Nomor 18 Tahun 2008 Pasal 19 yang mengatur pengurangan sampah melalui pembatasan timbulan, pendauran ulang, dan pemanfaatan kembali.
*Petugas Saja Tidak Cukup, Partisipasi Pengunjung Minim*
Laporan itu mengidentifikasi 7 masalah utama di Kampoeng Radja:
1. Volume sampah naik seiring jumlah pengunjung.
2. Pengunjung masih buang sembarangan meski fasilitas ada.
3. Pengelolaan masih didominasi petugas kebersihan, partisipasi pengunjung belum optimal.
4. Belum ada sistem kontrol digital berbasis mobile untuk lapor, edukasi, dan pengawasan.
5. Kesadaran pengunjung masih bervariasi.
6. Pengelola belum punya data digital pola perilaku buang sampah.
7. Belum diketahui sejauh mana pengunjung mau pakai aplikasi digital.
“Selama ini sampah dipahami masyarakat hanya sebagai tumpukan bau menyengat. Padahal sampah belum tentu negatif, tergantung manajemen pengelolaannya,” tulis laporan tersebut.
*Solusi: Aplikasi Sampah Digital Mobile*
Peneliti menawarkan terobosan memanfaatkan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan smartphone yang kini dipakai hampir semua lapisan masyarakat.
Konsepnya, sistem digital mobile memungkinkan pengunjung terlibat aktif, bukan cuma jadi penonton:
– *Cari Tong Terdekat:* Pengunjung dapat info lokasi tempat sampah terdekat yang sudah terpilah organik, anorganik, B3.
– *Dapat Pengingat:* Ada notifikasi untuk buang sampah pada tempatnya.
– *Bisa Lapor:* Jika lihat tumpukan sampah liar, bisa lapor langsung via foto dan koordinat GPS.
– *Dapat Poin:* Partisipasi dihargai berupa poin atau insentif.
Bagi pengelola wisata, manfaatnya lebih besar. Data laporan pengunjung bisa dipakai untuk mengetahui lokasi yang sering jadi titik penumpukan, waktu peningkatan volume sampah, dan jenis sampah paling dominan seperti botol air mineral, gelas plastik, bungkus makanan, sedotan, tisu, dan sisa makanan.
“Informasi tersebut dapat dijadikan dasar menentukan penempatan tempat sampah, menyusun jadwal petugas kebersihan, serta merancang program edukasi lingkungan yang lebih tepat sasaran,” tulis laporan itu.
Peneliti juga menekankan, keberhasilan aplikasi tidak hanya soal canggihnya teknologi, tapi juga perilaku. Perilaku dipengaruhi pengetahuan, sikap, motivasi, kebiasaan, lingkungan, dan kemudahan teknologi.
*Target Wisata Bersih Berkelanjutan*
Tujuan akhir penelitian ini ada 5: mendeskripsikan kondisi sampah Kampoeng Radja, menganalisis perilaku pengunjung, menyusun konsep aplikasi digital mobile, mengetahui tingkat penerimaan pengunjung, dan melihat pengaruh signifikan penerapan aplikasi terhadap perubahan perilaku.
Manfaatnya diharapkan bisa dirasakan pengelola untuk merancang sistem lebih efektif, pengunjung jadi lebih sadar dan peduli, serta jadi referensi ilmiah pengelolaan sampah wisata.
Jika diterapkan, Kampoeng Radja diharapkan menjadi kawasan wisata yang bersih, nyaman, sehat, dan berkelanjutan – sekaligus meningkatkan citra destinasi6 wisata Jambi yang kini rawan turun karena sampah berserakan.
(Tim FRIC)














