BUSEREKSPOSE.COM//JAMBI- Dwi Nanto manager kajian WALHI Jambi megatakanDalam temuan riset lapangan yang dilakukan oleh WALHI jambi terhadap praktek dan tata kelola PT.HAN,Yang melakukan pembukaan kawasan hutan dengan banyak menyisakan kayu tebangan hutan yang tidak digunakan oleh perusahan,meguatkan dugaan bahwa program pengembangan industri energi terbarukan lewat pemanfaatan produk biomasa pemerintah meyebut nya hutan tanaman Energi (HTE) monokultur hanya kedok belaka.
Hal tersebut karena diduga sesungguhnya PT.HAN adalah satu entitas pra kondisi untuk memuluskan perizinan IUPHH HTI yang berada diwilayah konsesi PT. HAN Hal tersebut dikuatkan dengan tidak berjalannya komitmen kerja sama dengan masyarakat setempat
Dalam membangun kerja sama dalam peyediaan bahan baku yang telah sama-sama di sepakati antara pihak perusahaan dan masyarakat,Tata-tata kelola buruk juga ternyata di temukan bukan hanya dilakukan oleh PT.HAN temuan riset yang di lakukan oleh WALHI Jambi,PT.IIS (Asian Agri) yang berada di wilayah desa Lampisi, juga menimbulkan persoalan dilapangan
Persoalan paling serius yang dihadapi warga desa Lampisi yang merupakan daerah padat penduduk yang berbatasan langsung dengan areal kebun perusahaan adalah banjir, saat diguyur hujan lebat, pemukiman warga di tiga rukun yang terdampak banjir.
Sehingga dari praktek yang berlangsung,sangat terlihat sekali bahwa,perusahaan PT.IIS telah melakukan tata kelola lingkugan yang buruk sehingga menyebabkan kerusakkan lingkungan yang terdampak pada banjir dengan megorbankan masyarakat.
Tambah Dwi -Dalam dua praktek tata kelola korporasi wilayah terpencil di Jambi, sesungguhnya telah membatalkan inti dari semangat mendorong energi baru yang berkeharusan berbanding lurus dengan nilai-nilai kemanusiaan dan berkelanjutan lingkugan hidup”pungkasnya
(LISDIANA)

















