Solusi Sampah Organik (PAHNIK) disumbernya dengan KOMPOSTER Ramah Lingkungan

banner 468x60

BUSEREKSPOSE. COM // – 

*MUARO JAMBI, 07 Oktober 2026* – Persoalan sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan ke sungai, selokan, bahkan dibakar di pemukiman, masih ditemukan di Desa Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro Jambi.

banner 336x280

 

Untuk menjawab itu, tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Jambi menggelar program *Edukasi Pengurangan Sampah Organik (PAHNIK) dengan Komposter* sepanjang tahun 2026.

 

Program ini digagas oleh Erris, Ahmad Dahlan dari Poltekkes Kemenkes Jambi, dan V.A Irmayanti Harahap dari Universitas Adiwangsa Jambi.

 

*30 Peserta Jadi Kader Perubahan*

 

Kegiatan tidak menyasar warga secara acak, tapi 30 orang kunci yang menjadi motor perubahan di desa:

 

– 1 orang dari Puskesmas

– 2 orang dari Pemerintah Desa Pudak

– 4 orang dari TPS 3R Pelangi

– 3 orang kader kesehatan/lingkungan

– 20 orang Ketua RT

 

“Pengelolaan sampah dari sumbernya adalah kunci sanitasi sehat. Desa Pudak sudah punya TPS 3R Pelangi dan Bank Sampah, tapi jarak fasilitas dan belum optimalnya pemilahan membuat sampah organik di rumah tangga masih jadi PR,” tulis tim dalam laporannya.

 

*Dari Sosialisasi ke Praktik Komposter*

 

Kegiatan dilakukan 6 tahap:

 

*1. Advokasi & Koordinasi:* Bangun dukungan dengan pemerintah desa dan Ketua RT.

*2. Sosialisasi & Edukasi:* Jelaskan pentingnya pengurangan sampah dari sumbernya dan manfaat komposter.

*3. Praktik Langsung:* Peserta diajari cara mengelola sampah organik jadi kompos, bukan hanya teori.

*4. Pendampingan Ibu Rumah Tangga:* Kader didampingi untuk menerapkan yg komposter secara individu di rumah.

*5. Kelompok Percontohan:* Dibentuk 1-2 kelompok ibu rumah tangga sebagai contoh bagi rumah tangga lain.

*6. Kemitraan:* Gandeng Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Muaro Jambi untuk keberlanjutan.

 

Hasilnya, sosialisasi pengelolaan sampah dengan komposter terlaksana, praktik di tingkat rumah tangga berjalan, pendampingan ibu rumah tangga berhasil, dan terbentuk kelompok percontohan.

 

Indikator keberhasilan difokuskan pada kemampuan warga menerapkan komposter dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar hafal teori. Komposter sendiri merupakan teknologi sederhana yang mengubah sampah organik seperti sisa makanan dan daun menjadi pupuk kompos yang bisa dipakai untuk tanaman.

 

*Kunci di Kader dan Ketua RT*

 

Tim menilai pendekatan edukasi plus praktik dan pendampingan jauh lebih efektif dibanding hanya ceramah satu arah. Keterlibatan Ketua RT, kader, ibu rumah tangga, TPS 3R, Bank Sampah, dan pemerintah desa menjadi kunci agar perilaku pilah sampah bisa bertahan lama.

 

Ke depan, program ini perlu didukung pendampingan kader secara konsisten, penerapan komposter yang rutin di rumah tangga, monitoring berkala oleh pemerintah desa, serta pengukuran kuantitatif perubahan pengetahuan agar dampak bisa dinilai lebih objektif.

 

> Dengan PAHNIK komposter, sampah organik yang tadinya dibuang ke sungai dan dibakar, kinix bisa jadi kompos bernilai ekonomi untuk warga Desa Pudak.

(Tim FRIC)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan